Showing posts with label ASUHAN KEPERAWATAN. Show all posts
Showing posts with label ASUHAN KEPERAWATAN. Show all posts

Saturday, 20 April 2019

LP TEORI KETOASIDOSIS DIABETIK

BAB 1
TINJAUAN TEORI
KETOASIDOSIS DIABETIK


1.1  TINJAUAN MEDIS

1.1.1        Pengertian

Ketoasidosis diabetik merupakan akibat dari defisiensi berat insulin dan disertai gangguan metabolisme protein, karbohidrat dan lemak. Keadaan ini terkadang disebut “akselerasi puasa” dan merupakan gangguan metabolisme yang paling serius pada diabetes ketergantungan insulin.

1.1.2        Etiologi

Ketoasidosis diabetik dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu akibat hiperglikemia dan akibat ketosis, yang sering dicetuskan oleh faktor-faktor :
-    Infeksi
-    Stress fisik dan emosional; respons hormonal terhadap stress mendorong peningkatan proses katabolik . Menolak terapi insulin

1.1.3        Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
1)      Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2)      Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3)      Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4)      Diabetes mellitus gestasional (GDM)


1.1.5        Pemeriksaan Diagnostik
1)      Glukosa darah : meningkat 200 – 100 mg/dl atau lebih
2)      Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
3)      Asam lemak bebas : kadar  lipid dan kolesterol meningkaat
4)      Osmolalitas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
5)      Elektrolit : Natrium : mungkin normal , meningkat atau menurun
6)      Kalium : normal atau peningkatan semu (perpindahan selular), selanjutnya akan menurun
7)      Fosfor : lebih sering menurun
8)      Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal yang mencerminkan kontrol DM yang kurang selama 4 bulan terakhir
9)      Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan kompensasi alkalosis respiratorik
10)  Trombosit darah : Ht mungkin meningkat atau normal (dehidrasi), leukositosis, hemokonsentrasi sebagai rrespons terhadap stress atau infeksi
11)  Ureum/kreatinin: Mungkn meningkaatt atau normal(dehidrasi/penurunan fungsi ginjal)
12)  Amilase darah : mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut sebagai penyebab DKA
13)  Urin : gula dan aseton positif , berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat
14)  Kultur dan sensitifitas : kemungkinan adanya infeksi saluran kemih, pernafasan dan pada luka    

1.2  TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN

1.2.1        Pengkajian

Pengkajian berdasarkan B6 yaitu:
1)      B1: Breathing (Pernapasan)
Gejala :   Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung   adanya infeksi/tidak)
Tanda :   Lapar udara, batuk dengan/tanpa sputum purulen
Frekuensi pernapasan meningkat
2)      B2: Bleeding (Cardiovasculer)
Gejala : Adanya riwayat hipertensi, IM akut
              Klaudikasi, kebas dan kesemutan pada ekstremitas
              Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama
              Takikardia
Tanda :   Perubahan tekanan darah postural, hipertensi
Nadi yang menurun/tidak ada
Disritmia
Krekels, Distensi vena jugularis
Kulit panas, kering, dan kemerahan, bola mata cekung
3)      B3: Brain (Persarafan)
Gejala :   Pusing/pening, sakit kepala
Kesemutan, kebas, kelemahan pada otot, parestesia
Gangguan penglihatan
Tanda :   Disorientasi, mengantuk, alergi, stupor/koma (tahap lanjut). Gangguan memori (baru, masa lalu), kacau mental
Refleks tendon dalam menurun (koma)
Aktifitas kejang (tahap lanjut dari DKA)
4)      B4: Bleder (Perkemihan)
Gejala :   Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia
Rasa nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISSK baru/berulang
Tanda :   Urine encer, pucat, kuning, poliuri ( dapat berkembang menjadi oliguria/anuria, jika terjadi hipovolemia berat)
Urin berkabut, bau busuk (infeksi)
5)      B5: Bowel (Eliminasi)
Abdomen keras, adanya asites            
Bising usus lemah dan menurun, hiperaktif (diare)
6)      B6: Bone (Muskoloskeletal / Integumen )
Gejala :  Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan
Kram otot, tonus otot menurun, gangguan istrahat/tidur
Tanda :  Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitas
Letargi/disorientasi, koma
Penurunan kekuatan otot
Kulit kering/bersisik, turgor jelek
Kekakuan/distensi abdomen, muntah
Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah), bau halisitosis/manis, bau buah (napas aseton)

1.2.2        Diagnosa Keperawatan

1)      Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik akibat hiperglikemia, pengeluaran cairan berlebihan : diare, muntah; pembatasan intake akibat mual, kacau mental
2)      Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral, status hipermetabolisme
3)      Resiko tinggi terhadap infeksi (sepsis) berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa, penurunan fungsi lekosit, perubahan pada sirkulasi
4)      Resiko tinggi terhadap perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan ketidkseimbangan glukosa/insulin dan/atau elektrolit
5)      Kelelalahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, insufisiensi insulin, peningkatan kebtuhan energi : status hipermetabolik/infeksi
6)      Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang, ketergantungan pada orang lain
7)      Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis, dan pengoobatan berhubungan dengan  kesalahan menginterpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi

1.2.3        Rencana Keperawatan
1.2.3.1  Defisit volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik akibat hiperglikemia, pengeluaran cairan berlebihan : diare, muntah; pembatasan intake akibat mual
Batasan karakteristik :
-    Peningkatan urin output
-    Kelemahan, rasa haus, penurunan BB secara tiba-tiba
-    Kulit dan membran mukosa kering, turgor kulit jelek
-    Hipotensi, takikardia, penurunan capillary refill
Kriteria Hasil :
-    TTV dalam batas normal
-    Pulse perifer dapat teraba
-    Turgor kulit dan capillary refill baik
-    Keseimbangan urin output
-    Kadar elektrolit normal
Intervensi :
1)      Kaji riwayat durasi/intensitas mual, muntah dan berkemih berlebihan
R/  Membantu memperkirakan pengurangan volume total. Proses infeksi yang menyebabkan demam dan status hipermetabolik meningkatkan pengeluaran cairan insensibel.
2)      Monitor vital sign dan perubahan tekanan darah orthostatik
R/  Hypovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia. Hipovolemia berlebihan dapat ditunjukkan dengan penurunan TD lebih dari 10 mmHg dari posisi berbaring ke duduk atau berdiri.
3)      Monitor perubahan respirasi: kussmaul, bau aceton
R/  Pelepasan asam karbonat lewat respirasi menghasilkan alkalosis respiratorik terkompensasi pada ketoasidosis. Napas bau aceton disebabkan pemecahan asam keton dan akan hilang bila sudah terkoreksi
4)      Observasi kualitas nafas, penggunaan otot asesori dan cyanosis
R/  Peningkatan beban nafas menunjukkan ketidakmampuan untuk berkompensasi terhadap asidosis
5)      Observasi ouput dan kualitas urin.
R/  Menggambarkan kemampuan kerja ginjal dan keefektifan terapi
6)      Timbang BB
R/  Menunjukkan status cairan dan keadekuatan rehidrasi
7)      Pertahankan cairan 2500 ml/hari jika diindikasikan
R/  Mempertahankan hidrasi dan sirkulasi volume
8)      Ciptakan lingkungan yang nyaman, perhatikan perubahan emosional
R/  Mengurangi peningkatan suhu yang menyebabkan pengurangan cairan, perubahan emosional menunjukkan penurunan perfusi cerebral dan hipoksia
9)      Catat hal yang dilaporkan seperti mual, nyeri abdomen, muntah dan distensi lambung
R/  Kekurangan cairan dan elektrolit mengubah motilitas lambung, sering menimbulkan muntah  dan potensial menimbulkan kekurangan cairan & elektrolit
10)  Observasi adanya perasaan kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur dan adanya distensi pada vaskuler
R/  Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat mungkin sangat berpotensi menimbulkan beban cairan dan GJK
11)  Kolaborasi:
(1)   Pemberian NS dengan atau tanpa dextrosa
R/  Pemberian tergantung derajat kekurangan cairan dan respons pasien secara individual
(2)   Albumin, plasma, dextran
R/  Plasma ekspander dibutuhkan saat kondisi mengancam kehidupan atau TD sulit kembali normal
(3)   Pertahankan kateter terpasang
R/  Memudahkan pengukuran haluaran urin
(4)   Pantau pemeriksaan lab :
Ø  Hematokrit
R/  Mengkaji tingkat hidrasi akibat hemokonsentrasi
Ø  BUN/Kreatinin
R/  Peningkatan nilai mencerminkan kerusakan sel karena dehidrasi atau awitan kegagalan ginjal
Ø  Osmolalitas darah
R/  Meningkat pada hiperglikemi dan dehidrasi
Ø  Natrium
R/  Menurun mencerminkan perpindahan cairan dari intrasel (diuresis osmotik), tinggi berarti kehilangan cairan/dehidrasi berat atau reabsorpsi natrium dalam berespons terhadap sekresi aldosteron
Ø  Kalium
R/  Kalium terjadi pada awal asidosis dan selanjutnya hilang melalui urine, kadar absolut dalam tubuh berkurang. Bila insulin diganti dan asidosis teratasi kekurangan kalium terlihat
(5)   Berikan Kalium sesuai indikasi
R/  Mencegah hipokalemia
(6)   Berikan bikarbonat jika pH <7,0
R/  Memperbaiki asidosis pada hipotensi atau syok
(7)   Pasang NGT dan lakukan penghisapan sesuai dengan indikasi
R/  Mendekompresi lambung dan dapat menghilangkan muntah

1.2.3.2  Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan   
       insulin, penurunan masukan oral, status hipermetabolisme
Batasan karakteristik :
-          Klien melaporkan masukan butrisi tidak adekuat, kurang nafsu makan
-          Penurnan berat badan, kelemahan, tonus otot buruk
-          Diare
Kriteria hasil :
-          Klien mencerna jumlah kalori/nutrien yang tepat
-          Menunjukkan tingkat energi biasanya
-          Mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan sesuai rentang normal
Intervensi :
1)      Pantau berat badan setiap hari atau sesuai indikasi
R/  Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat termasuk absorpsi dan utilitasnya
2)      Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dihabiskan
R/  Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapetik
3)      Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum dicerna, pertahankan puasa sesuai indikasi
R/  Hiperglikemia dan ggn keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan motilitas/fungsi lambung (distensi atau ileus paralitik)yang akan mempengaruhi pilihan intervensi.
4)      Berikan makanan yang mengandung nutrien kemudian upayakan pemberian yang lebih padat yang dapat ditoleransi
R/  Pemberian makanan melalui oral lebih baik jika pasien sadar dan fungsi gastrointestinal baik
5)      Libatkan keluarga pasien pada perencanaan sesuai indikasi
R/  Memberikan informasi pada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi pasien
6)      Observasi tanda hipoglikemia
R/  Hipoglikemia dapat terjadi karena terjadinya metabolisme karbohidrat yang berkurang sementara tetap diberikan insulin , hal ini secara potensial dapat mengancam kehidupan sehingga harus dikenali
7)      Kolaborasi :
Ø  Pemeriksaan GDA dengan finger stick
R/  Memantau gula darah lebih akurat daripada reduksi urine untuk mendeteksi fluktuasi
Ø  Pantau pemeriksaan aseton, pH dan HCO3
R/  Memantau efektifitas kerja insulin agar tetap terkontrol

Ø  Berikan pengobatan insulin secara teratur sesuai indikasi
R/  Mempermudah transisi pada metabolisme karbohidrat dan menurunkan insiden hipoglikemia
Ø  Berikan larutan dekstrosa dan setengah salin normal
R/  Larutan glukosa setelah insulim dan cairan membawa gula darah kira-kira 250 mg/dl. Dengan mertabolisme karbohidrat mendekati normal perawatan harus diberikan untuk menhindari hipoglikemia

1.2.3.3  Resiko tinggi terhadap infeksi (sepsis) berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa, penurunan fungsi lekosit, perubahan pada sirkulasi
1.2.3.4  Resiko tinggi terhadap perubahan sensori-perseptual berhubungan dengan ketidkseimbangan glukosa/insulin dan/atau elektrolit
1.2.3.5  Kelelalahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik, insufisiensi insulin, peningkatan kebtuhan energi : status hipermetabolik/infeksi
1.2.3.6  Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang, ketergantungan pada orang lain
1.2.3.7  Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis, dan pengoobatan berhubungan dengan  kesalahan menginterpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi




Daftar Pustaka


Carpenito, Lynda Juall (2000), Buku saku Diagnosa Keperawatan,  Edisi 8, EGC, Jakarta

Doengoes, E. Marilyn (1989), Nursing Care Plans, Second Edition, FA Davis, Philadelphia


Price, Sylvia (1990), Patofisiologi dan Konsep Dasar Penyakit , EGC, Jakarta

Tuesday, 16 April 2019

LP TEORI ASKEP CKD (Cronik Kidney Disease)

   No comments     
categories: , , , ,
BAB 1
TINJAUAN TEORI
CKD (Cronik Kidney Disease)


1.1  Tinjauan Medis
1.1.1        Definisi
CKD (Cronik Kidney Disease) adalah kelainan ginjal berupa kelainan struktural atau fungsional yang di manifestasikan oleh kelainan patologi atau petanda kerusakan ginjal secara laboratorik atau kelainan pada pemeriksaan radiologi dengan atau tanpa penurunan fungsi ginjal yang berlangsung > 3 bulan.
CKD adalah kelainan penurunan LFG < 60 ml/menit per 1.73 m2 luas permukaan tubuh selama > 3 bulan tanpa atau dengan kerusakan ginjal
GGK merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat biasanya berlangsung dalam beberapa tahun ( Lorainne M. Willson, 1999 : 812)
GGK adalah kerusakan pada ginjal yang terus berlangsung dan tidak dapat diperbaiki yang disebabkan oleh sejumlah kondisi dan akan menimbulkan gangguan multi sistem ( Kep. Medikal Bedah : Charlene J Reeves, Salemba Merdeka. Jakarta. 2001 ).

1.1.2        Manifestasi Klinis
1)      Gangguan pengecapan
2)      Tidak nafsu makan
3)      Mual – mual dan muntah
4)      Berat badan turun dan lesu
5)      Gatal – gatal
6)      Gangguan tidur
7)      Hipertensi dan vena leher membesar
8)      Sesak nafas
9)      Perubahan jumlah dan frekuensi urine
10)  Nyeri daerah pinggang
11)  Pembengkakan kaki dan pergelangan tangan

1.1.3        Etiologi
1)      Riwayat diabetes
2)      Riwayat hepertensi
3)      Kelalinan parenkim ginjal
4)      Penyakit ginjal obstruktif

1.1.4        Patofisiologi



1.1.5        Klasifikasi
Klasifikasi berdasarkan test clearents creatinins dan dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu :
1)      100 – 76 ml/mnt disebut ginjal berkurang
2)      75 – 26 ml/mnt disebut insufisiensi ginjal kronik
3)      25 – 5 ml/mnt disebut gagal ginjal kronik
4)      < 5 ml/mnt disebut gagal ginjal terminal

1.1.6        Komplikasi
1)      Hipertensi
2)      Infeksi traktus urinarius
3)      Obstruksi traktus urinarius
4)      Gangguan elektrolit
5)      Gangguan perfusi ke ginjal

1.1.7        Pemeriksaan Penunjang
1)      Radiologi
2)      Foto polos abdomen
3)      IVP
4)      USG
5)      EKG
6)      Pemeriksaan laboratorium

1.1.8        Penatalaksanaan
1)      Tentukan dan tatalaksana terhadap penyebab
2)      Obtimalisasi dan pertahankan keseimbangan garam dan cairan
3)      Diet tinggi kalori dan rendah protein
4)      Kendalikan hipertensi
5)      Jaga keseimbangan elektrolit
6)      Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang akibat GGK
7)      Modifikasi terapi obat sesuai dengan keadaan ginjal
8)      Deteksi dini terhadap komplikasi dan berikan terapi
9)      Persiapan program hemodialisis
10)  Transplantasi ginjal

1.2  Tinjauan Asuhan Keperawatan
1.2.1        Pengkajian
1)      Breathing
Tachipnea, dispnea, peninggkatan frekuensi dan kedalaman pernafasan (kussmaul), nafas amonia, batuk produktif dengan sputum kental merah muda (edema paru)
2)      Blood
Hipotensi/hipertensi, disritmia jantung, nadi lemah/halus, hipotensi orthostatik (hipovolemia), hipervolemia (nadi kuat), oedema jaringgan umum, pucat, kecenderungan perdarahan
3)      Brain
Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, gangguan status mental, penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilanggan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran (azotemia, ketidakseimbanggan elektrolit/asam/basa), kejang, aktivitas kejang
4)      Bladder
Perubahan warna urine menjadi lebih pekat/gelap, merah, coklat, berawan, Oliguria ( bisanya 12-21 hari); poliuria (2-6 l/hari), Perubahan pola kemih : peninggkatan frekuensi, poliuria (kegagalan dini) atau penurunan frekuensi/oliguria (fase akhir), disuria, ragu-ragu berkemih, dorongan kurang, kemih tidak lampias, retensi (inflamasi/obstruksi, infeksi),
5)      Bowel
Adanya keluhan dari pasien mengenai mual, muntah, anoreksia, abdomen kembung, diare atau konstipasi
6)      Bone
Kulit berwarna pucat, Ekimosis, Urea frost, Bekas-bekas guratan karena gatal

1.2.2        Diagnosa Asuhan Keperawatan
1)      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual yang dirasakan oleh pasien.
Tujuan : Nutrisi pasien terpenuhi secara adekuat
Kriteria hasil :
(1)   Pasien mengatakan tidak mual
(2)   Pasien menghabiskan porsi makan
(3)   Pasien tidak lemas
Rencana Asuha Keperawatan :
(1)   Anjurkan pasien untuk makan sedikit tapi sering
R/ Makan sedikit – sedikit memberikan kesempatan pada lambung utuk mengosongkan sehingga tidak terjadi perasaan penuh pada lambung.
(2)   Jauhkan benda – benda berbau yang dapat merusak selera makan pasien
R/ Benda yang berbau menyengat bisa mempengaruhi selera makan pasien yang berakibat pasien malas untuk makan.
(3)   Berikan penjelasan pada pasien tentang pentingnya nutrisi bagi kesembuhan
R/ Pasien dapat lebih termotivasi untuk segera sembuh seingga pasien akan kooperatif dalam perawatan
(4)   Libatkan pasien dalam menentukan makanan yang disenangi yang sesuai dengan diet
R/ Memilih makanan yang disenangi membuat pasien merasa memiliki semangat untuk makan tetapi dalam batas diet yang ditentukan
(5)   Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti mual
R/ Obat anti mual bekerja di hipotalamus yang akan menahan keluarnya faktor mual.

2)      Resiko cidera berhubungan dengan kelemahan otot.
Tujuan :
Tidak terjadi cidera selama dalam proses perawatan
Kriteria hasil :
(1)   Pasien dapat sembuh tepat waktu
(2)   Pasien tidak mengalami cidera selama dalam proses perawatan
Rencana Asuhan Keperawatan
(1)   Berikan batas penghalang pada tempat tidur pasien
R/ Batas penghalang akan menghalalangi pasien ketika pasien tidak sadar dari kecelakaan, misl terjatuh dari tempat tidur
(2)   Anjurkan keluarga untuk selalu menmai pasien
R/ Keluarga adalah orang yang dicintai pasein sehingga pasien akan merasa aman dan tidak akan mendapat cidera
(3)   Berikan semua pemenuhan ADL pasien
R/ Pemenuhan semua kebutuhan pasien akan membuat pasien merasa diperhatikan dan tidak akan mecoba untuk melakukan tindakan sendiri.
(4)   Observasi tingkat kesadaran pasien
R/ Observasi berguna dalam memberi penilaian terhadap respon pasien sehingga dapat digunakan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

3)      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan beban jantung
Tujuan
Pasien tidak merasa sesak
Kriteria Hasil
(1)   Pasien mengungkapkan rasa tidak sesak
(2)   Tidak terjadi pernafasan cuping hidung
(3)   Pasien dapat bernafas tanpa dibatu oksigen
Recana Asuhan Keperawatan
(1)   Bantu / latih pasien dalam menggunakan latihan nafas dalam
R/ Menggunakan teknik nafas dalam dapat membuat pasien merasa rilek dan dapat bernafas dengan efektif dan tenang
(2)   Berikan oksigen selama pasien tidak bisa bernafas mandiri, kurangi secara perlahan
R/ Oksigen bantuan akan dapat membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen sehingga mencegah terjadinya syok
(3)   Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat pelega pernafasan
R/ Obat pengencer dahak dapat berguna untuk melancarkan jalan nafas karena adanya akumulasi cairan pada tenggorokan
(4)   Berikan pasien posisi semi fowler
R/ Posisi semifowler meningkatkan ekspansi dada sehingga pengembangan paru dalam mengambil oksigen tidak terlalu berat
(5)   Jauhkan dari bau yang menyengat
R/ Bau yang menyengat akan dapat mengganggu pernafasan pasien karena mengganggu pusat cemas yang akan meningkatkan kerja jantung dan beban paru
(6)   Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik
R/ Obat diuretik akan bekerja dengan jala meningkatkan sekresi air untuk dibuang keluar sehingga menurunkan kerja jantung.
(7)   Batasi minum pasien
R/ Kondisi oedema akan dapat lebih parah jika intake cairan pasien tidak sembang dengan  output pasien terutama pasien dalam kondisi oedema

4)      Risiko kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan tekanan osmotik plasma
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan volume cairan stabil
Kriteria hasil :
1)      tidak ada odema
2)      tidak sesak
3)      intake output seimbang
4)      nilai pemeriksaan darah dalam batas normal
Intervensi keperawatan “
1.      Kolaborasi dalam pemasangan catheter
R : pemasangan cateter yang menetap memudahkan dalam melakukan pengukuran intake output secara tepat
2.      Ukur intake dan output
R : Mengetahui status sirkulasi cairan secara adekuat dan mengidentifikasi balance cairan di dalam tubuh
3.      Observasi tekanan darah tiap 4 jam sekali
R : tekanan darah yang meningkat berhubungan dengan kelebihan cairan dan berguna untuk mengontrol pemberian anti diuretik
4.      Pantau derajat oedema
R : Perpindahan cairan pada jaringan akibat dari retensi natrium dan air
5.      Anjurkan pasien untuk membatasi intake cairan
R : Meminimalkan retensi cairan dalam area ekstravaskular. Pembatasan cairan untuk memperbaiki pengenceran hiponatremia
6.      Kolaborasi dalam terapi diuretik
R : diuretik dapat mengontrol odema / megeluarkan cairan dari dalam tubuh sehingga mengurangi sesak akibat kelebihan cairan

5)      Konstipasi berhubungan dengan perubahan motilitas usus.
Tujuan
Pasien dapat melakukan defekasi secara adekuat
Kriteria Hasil
(1)   Pasien mengungkapkan BAB lancar
(2)   Pasien tidak merasa nyeri perut
Rencana Asuhan Keperawatan
(1)   Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
R/Obat yang diberikan bekerja dengan menghancurkan pengerasan feses dan peningkatan motilitas usus
(2)   Lakukan enema bila memungkinkan
R/ Enema dapat melunakan feses sehingga mudah untuk keluar
(3)   Anjurkan pasien untuk makan makanan tinggi serat
R/ makan makanan yang berserat meningkatkan motilitas usus
(4)   Anjurkan pasien untuk makan makanan dengan sayur
R/ Makanan kering hanya akan menambah penumpukan feses karena kurangnya cairan yang melunakan feses

1.    2.3        Evaluasi
1)      Nutrisi pasien terpenuhi secara adekuat
2)      Pasien tidak mengalami cidera selama proses perawatan
3)      Pasien dapat melakukan aktifitas tanpa sesak
4)      setelah diberikan tindakan keperawatan volume cairan stabil
5)      Pasien dapat melakukan aktivitas BAB dengan lancar





DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktek Klinik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Evelyn C.pearce (1999), Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerbit PT Gramedia, Jakarta.
Gallo, J.J (1998). Buku Saku Gerontologi Edisi 2. Aliha Bahasa James Veldman. EGC. Jakarta
Guyton and Hall (1997), Buku Ajar: Fisiologi Kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta : EGC
Nugroho.W. (2000). Keperawatan Gerontik. Gramedia. Jakarta
Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. (1996). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan , Jakarta, Depkes.
Tuti Pahria, dkk, (1993). Asuhan Keperawatan  pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan, Jakarta, EGC.